Tuesday, March 18, 2014

PENDIDIKAN ABK TUNA RUNGU

A.    KURIKULUM ABK (Tuna Rungu)
1.         Pengertian kurikulum ABK
Kurikulum adalah seperangkat rencana pembelajaran yang didalamnya menampung pengaturan tentang tujuan, isi, proses, dan evaluasi. Dengan demikian kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang dirancang, diberlakukan dan diimplementasikan dalam satu lembaga atau satuan pendidikan tertentu.
Selanjutnya silabus merupakan rancangan pembelajaran yang disusun oleh guru selama satu semester. Sedangkan RPP sebagai rencana pembelajaran yang di susun guru untuk satu atau bebrapa pertemuan dengan peserta didik.
Dalam pembelajaran inklusif, model kurikulum bagi ABK dapat dikelompokan menjadi empat, yakni:
a.         Duplikasi Kurikulum
Yakni ABK menggunakan kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengan siswa rata-rata/regular. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik tunanetra, tunarungu wicara, tunadaksa, dan tunalaras. Alasannya peserta didik tersebut tidak mengalami hambatan intelegensi. Namun demikian perlu memodifikasi proses, yakni peserta didik tunanetra menggunkan huruf Braille, dan tunarungu wicara menggunakan bahasa isyarat dalam penyampaiannya.
b.        Modifikasi Kurikulum
Yakni kurikulum siswa rata-rata/regular disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan/potensi ABK. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada peserta didik tunagrahita dan modifikasi kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta didik gifted and talented.
c.         Subtitusi Kurikulum
Yakni beberapa bagian kurikulum anak rata-rata ditiadakan dan diganti dengan yang kurang lebih setara. Model kurikulum ini untuk ABK dengan melihat situasi dan kondisinya.
d.        Omisi Kurikulum
Yaitu bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakan total, karena tidak memungkinkan bagi ABK untuk dapat berfikir setara dengan anak rata-rata.
Nah, dari penjabaran model-model kurikulum di atas, maka kurikulum yang cocok bagi ABK Tuna Rungu yakni kurikulum “Duplikasi Kurikulum”.Adapun pembahasan yang lebih mendalam lagi akan dijabarkan pada bab III.
2.         Kurikulum ABK Tuna Rungu
Kurikulum yang digunakan pada YPALB SLB-B  karanganyar adalah sebagai berikut dimana peserta didik akan memperoleh :
a.      Pendekatan komunikasi
Guru menggunakan pendekatan komunikasi dengan bahasa isyarat,  dimana guru menggunakan gerakan mulut dan gerakan tangan untuk berbicara dengan peserta didik. Selain itu, komunikasi dapat dilakukan juga melalui tulisan tangan. Hal ini memungkinkan siswa untuk mampu berbahasa dan berkomunikasi sebagai dasar untuk menguasai kompetensi yang lain.
b.      Pendekatan Auditori Oral
Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik ( mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat ).



c.       Bidang kekhususan
Yaitu dengan memberikan pelayanan secara khusus kepada peserta didik yang dianggap membutuhkan pelayanan khusus atau sendiri.
d.      Bidang pengembangan keterampilan 
Adalah meliputi komputer, melukis, mengambar, serta  sanggar kreatifitas.
e.       Menggunakan alat peraga secara langsung
Kegiatan pembelajaran di YPALB SLB-B Karanganyar ini menggunakan alat peraga secara langsung. Hal ini dianggap guru sebagai cara untuk mempermudah pemahaman peserta didik menggunakan media alat peraga tersebut.
f.       Materi lebih sederhana dibandingkan sekolah reguler/umum
Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru SLB-B ini masih berintergrasi dengan sekolah pada umumnya, hanya saja dalam penyampaian materi tersebut kepada peserta didik guru memilah-milah materi yang kiranya bisa diterima peserta didik atau materi lebih disederhanakan lagi oleh guru sehingga dapat diterima peserta didik .
g.      Memuat 8 mata pelajaran
Kurikulum di YPALB SLB-B karanganyar memuat 8 mata pelajaran untuk tingkat SDLB yakni antara lain : IPA, IPS, Matematika, Bhs.Indonesia, Pkn, SBK, Agama, dan olah raga.

B.     RPP ABK (Tuna Rungu)
RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran yang dibuat oleh guru sebagai suatu rencana bagaimana kegiatan pembelajaran akan dilaksanakan. Rencana pelaksanaan pembelajaran di SDLB tidak jauh berbeda dengan RPP di SD pada umumnya hanya saja ada sedikit perbedaan yaitu terletak pada sistem penilaiannya. Untuk RPP bisa dilihat dilampiran.
Adapun program pembelajaran meliputi program tahunan, bulanan, mingguan, harian (mengikuti program di kelompok bermain). Sedangkan RPI (Rencana Pembelajaran Individual) disusun berdasarkan hasil assesment individu ABK dan di implementasikan pada setiap sentra bersama siswa yang lainnya. Pelaksanakan RPI dapat dilakukan  pada waktu umum ataupun juga bisa pada waktu kegiatan yang khusus (hanya pendidik dengan satu siswa saja). Prinsip-prinsip dari RPI itu sendiri adalah sebagai berikut :
1.      berpusat pada kebutuhan anak
Maksudnya adalah posisi dimana pendidik harus memperhatikan minat dan  bakat peserta didiknya agar dapat digali potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut untuk nantinya bisa dikembangkan lebih lanjut dengan bantuan, arahan serta dampingan oleh guru untuk mengukir prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik itu sendiri.
2.      Inklusif
Pendidik sekaligus memperkenalkan adanya keberagaman khusus antara peserta didik berkebutuhan khusus dan tidak.
3.      Holistik
Penyusunan hendaknya meliputi seluruh aspek kebutuhan peserta didik.
Kerjasama setiap pihak yang terkait dengan peserta didik (orangtua, pendidik, terapis) sehingga penanganan bisa berlangsung bisa integratif.

C.    LAYANAN PENDIDIKAN ABK (Tuna Rungu)
  1. Tujuan Layanan Pendidikan ABK (Tuna Rungu)  di Sekolah
Tujuan layanan  pendidikan bagi ABK tidak berbeda dengan tujuan pendidikan secara umum, yaitu,  “untuk optimalisasi  perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga  negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Sisdiknas No. 20/2003). Dalam UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 51 juga menyatakan  : “anak yang menyandang cacat fisik dan mental diberikan kesempatan yang sama dan akses untuk memperoleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa”.

  1. ABK  dengan Gangguan Pendengaran
a.         Kebutuhan Belajar
Ada beberapa kebutuhan yang diperlukan ABK dengan gangguan pendengaran di dalam belajar.Kebutuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Alat Bantu Dengar (ABD)
    ABD merupakan alat yang sangat penting bagi ABK dalam menerima rangsangan suara. Namun,  tidak semua anak-anak suka menggunakan alat bantu dengar. Hal ini dikarenakan karena ABD tidak dapat menyeleksi bunyi suara, sehingga segala bunyi/suara bisa masuk ke telinga melalui ABD.  Efek negatifnya adalah anak-anak pemakai ABD sering dikejutkan bunyi-bunyi mendadak yang masuk ke telinga.  Guru perlu memiliki wawasan tentang ABD dan penggunaannya. Agar anak mendapatkan kenyamanan saat menggunakan ABD, maka perlu dipilihkan ABD yang berkualitas dengan berkonsultasi kepada ahli audiologi, salah memilih akan dapat berpengaruh terhadap anak yang memakai.
Oleh karena itu,  tidak jarang anak dengan kelainan pendengaran enggan memakai ABD karena kualitasnya kurang bagus. Dalam proses belajar-mengajar di kelas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru, diantaranya adalah:
a.         ABD bukan sebagai pengganti pendengaran yang normal, tetapi hanya membuat suara lebih keras,  termasuk suara yang tak diinginkan pun ikut terdengar.
b.          ABK diharapkan terus memakainya  dalam pengajaran.
c.         Tempat duduk  ABK tetap perlu diperhatikan agar mendengar secara optimal dan tak terganggu, dan.
d.        Guru berusaha berbicara di depan kelas dengan intonasi yang jelas  sehingga bisa dimengerti oleh semua anak, terutama ABK. 

  1. Fasilitas atau Alat-alat yang Diperlukan dalam Belajar Anak Tunarungu
Fasilitas penunjang untuk pendidikan anak tunarungu secara umum relative sama dengan anak normal. Seperti papan tulis, buku, buku pelajaran, alat tulis, sarana bermain dan olah raga. Namun karena anak tunarungu mmepunyai hambatan dalam mendengar dan berbicara, maka merekan memrlukan alat bantu khusus, alat khusus antara lain menurut permanarian somad dan tati herawati (1996) adalah audiometer, hearing aids, telephone typewriter, mikro komputer, audio visual, tape recorder, spatel dan cermin.
a.         Audiometer
Audiometer adalah alat elektronik untuk mengukur taraf kehilangan pendengaran seseorang. Ada dua jenis audiometer yaitu audiometer oktaf dan audiometer kontinyu. Audiometer oktaf untuk mengukur frekuensi pendengaran : 125 – 250 – 500 – 1000 – 2000 – 4000 – 8000 Hz. Audiometer kontinyu mengukur pendengaran antara 125 – 12000 Hz.
b.        Hearing aids
Hearing aids atau alat bantu dengar mempunyai tiga unsur utama, yaitu microphone, amplifer, dan receiver. Sedangkan prinsip kerjanya adalah sebagai berikut : suara (energi akustik) diterima microphone, kemudian diubah menjadi energi listrik dan dikeraskan melalui amplifer, kemudian diteruskan ke receiver (telepon) yang mengubah kembali energi listrik menjadi suara seperti alat pendengaran pada telepon dan diarahkan ke gendang telinga (membrane Tympany).
Alat bantu dengan hearing aids ada bermacam-macam yaitu diselipkan di belakang telinga, di dalam telinga, dipakai pada saku kemeja (pocket), atau yang dipasang pada bingkai kacamata. Dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aids) anak tunarungu dapat berlatih mendengarkan, baik secara individual maupun secara kelompok.
c.            Telephone typewriter
Telephone typewriter atau mesin penulis telepon merupakan alat bantu bagi anak tunarungu yang memungkinkan mereka mengubah pesan-pesan yang diketik menjadi tanda-tanda elektronik yang diterjemahkan secara tertulis (huruf cetak).
Mesin tulis telepon terdiri dari telepon yang dilengkapi dengan alat pendengar, lampu kedap kedip sebagai tanda panggilan, mesin tulis, komputer dan amplifer. Mesin tulis ini memungkinkan perubahan pesan suara yang masuk ke dalam computer dan mengubah tanda-tanda elektronik dan bunyi pada frekuensi yang berlainan yang kemudian disampaikan melalui telepon dan diubah kembali menjadi huruf tercetak yang dapat dimengerti oleh anak tunarungu.
d.        Mikro computer
Mikrokomputer merupakan alat bantu khusus yang dapat memberikan informasi secara visual. Alat bantu ini sangat membantu bagi anak tunarungu yang mengalami kelainan pendengaran berat. Keefektifan penggunaan mikrokomputer tergantung pada software dan materinya harus dapat dimengerti oleh anak tunarungu.

e.       Audio visual
Alat bantu audiovisual dapat berupa film, video tapes, TV. Penggunaan audiovisual tersebut sangat bermanfaat bagi anak tunarungu, karena mereka dapat memperhatikan sesuatu yang ditampilkan sekalipun dalam kemampuan mendengar yang terbatas. Sebagai contoh, penayangan film-film pendidikan, film ilmiah popular, film kartun, dan siaran berita TV dengan bahasa isyarat.
f.          Tape recorder
Tape recorder sangat berguna untuk mengontrol hasil ucapan yang telah direkam, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan bahasa lisan anak tunarungu dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun. Selain itu, tape recorder sangat membantu anak tunarungu ringan dalam menyadarkan akan kelainan bicaranya, sehingga guru artikulasi lebih mudah membimbing mereka dalam memperbaiki kemampuan bicara mereka. Tape recorder dapat pula digunakan untuk mengajar tunarungu yang belum bersekolah dalm mengenal gelak tawa, suara-suara hewan, perbedaan antara suara tangisan dengan suara omelan dan sebagainya.
g.          Spatel
Spatel adalah alat bantu untuk membetulkan posisi organ bicara, terutama lidah. Spatel digunakan untuk menekan lidah, sehingga kita dapat membetulkan posisi lidah anak tunarungu. Dengan posisi lidah yang benar mereka dapat bicara dengan benar.
h.        Cermin
Cermin dapat digunakan sebagai alat bantu anak tunarungu dalam belajar mengucapkan sesuatu dengan artikulasi yang benar. Di samping itu, anak tunarungu dapat menyamakan ucapannya melalui cermin dengan apa yang diucapkan oleh guru atau artikulator (speech therapist). Dengan menggunakan cermin, articulator dapat mengontrol gerakan-gerakan yang tidak tepat dari anak tunarungu, sehingga mereka menyadari dalam mengucapkan konsonan, vokal, kata-kata, kalimat secara benar.
    
  1. Bentuk Layanan Pendidikan Anak Tunarungu di Sekolah
Layanan pendidikan yang spesifik bagi tuna rungu adalah terletak padapengembangan persepsi bunyi dan komunikasi. Hallahan dan Kauffman (1988) menyatakan bahwa ada tiga pendekatan umum dalam mengajarkan komunikasi anak tunarungu, yaitu Auditory training, speechreading, sing language and fingerspelling.
Ada beberapa cara dalam mengembangkan kemampuan komunikasi anak tunarungu, yaitu :
a.         Metode oral
yaitu cara melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan lingkungan orang mendengar. Dalam hal ini perlu partisipasi lingkungan anak tunarungu untuk berbahasa secara verbal. Dalam hal ini Van Uden, menyarankan diterapkannya prinsip cybernetic yaitu prinsip yang menekankan perlunya suatu pengontrolan diri. Setiap organ gerak bicara yang menimbulkan bunyi, dirasakan dan diamati sehingga hal itu akan memberikan umpan balik terhadap gerakan yang akan menimbulkan bunyi selanjutnya.
b.        Membaca ujaran
 Dalam dunia pendidikan membaca ujaran sering disebut juga dengan membaca bibir (lip reading). Membaca ujaran yaitu suatu kegiatan yang mencakup pengamatan visual dari bentuk dan gerak bibir lawan bicara sewaktu dalam proses bicara.
c.         Metode manual
Metode manual yaitu cara mengajar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan isyarat atau ejaan jari. Bahasa manual atau bahasa isyarat mempunyai unsure gesti atau gerakan tangan yang ditangkap melalui penglihatan atau suatu bahasa yang menggunakan modalitas gesti-visual.
d.        Ejaan jari
Ejaan jari adalah penunjang bahsa isyarat dengan menggunakan ejaan jari. Ejaan jari secara garis besar dapt dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu (1) ejaan jari dengan satu tangan (onehanded), (2) ejaan jari denga kedua tangan (twohanded), dan (3) ejaan jari campuran dengan menggunakan satu tangan atau dua tangan.
e.         Komunikasi total
Komunikasi total merupakan upaya perbaikan dalam mengajarkan komunikasi anak tunarungu. Istilah komunikasi total pertama kali dicetuskan oleh Holcomb (1968) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Denton (1970) dalam Permanarian Somad dan Tatti Herawati (1996). Komunikasi total merupakan cara berkomunikasi dengan menggunakan salah satu modus atau semua cara komunikasi yaitu penggunaan system isyarat, ejaan jari, bicara, baca ujaran, amplifikasi, gesti, pantomimik, menggambar dan menulis serta pemanfaatan sisa pendengaran sesuai kebutuhan dan kemampuan seseorang.

  1. Strategi Pendampingan Belajar
Tujuan utama pendidikan  ABK gangguan pendengaran adalah agar anak mampu mengikuti dan berperan dalam seluruh bidang kehidupan. Untuk itu anak harus dipersiapkan sedini mungkin. Untuk guru yang melayani pendidikan ABK, Smith (2004) memberikan advokasi :
a) Anak diberikan tempat duduk di depan papan tulis, dan diusahakan jauh dari bunyi-bunyi getaran mesin pemanas dan AC.
b)  Anak diberi kesempatan yang relative sama dengan anak normal lainnya dalam kegiatan berbahasa dan berbicara.
c)      Jika anak tampak kebingungan, guru  dapat menjelaskan sekali lagi ucapan/pernyataan yang dimaksud.
d)     ABK biasanya lebih cepat lelah  dibandingkan dengan teman lain yang normal, untuk itu guru menjelaskan materi pelajaran tidak terlalu cepat.
e)    Guru hendaknya memperhatikan ekspresi wajah anak apakah telah mengadakan kontak mata sebelum materi diberikan.
Bagi ABK  tunarungu yang mengandalkan membaca ucapan (speechreading), Smith (2004) memberi saran sebagai berikut:
a)    Ketika  berbicara guru menghindari aktivitas  keliling ruangan, sehingga tidak dapat diikuti oleh siswa dan siswi tunarungu.
b)   Guru hendaknya mengambil posisi yang cukup cahaya sehingga wajah dan ucapan guru dapat dilihat dengan jelas.
c)      Tangan guru hendaknya tidak menutupi wajah dan gerak bibir.
d)    Guru hendaknya tidak terlalu berlebihan ketika menggunakan mulut; usahakan bicara pelan dan alami.
e)    Bagi guru laki-laki hendaknya tidak memelihara kumis lebat karena dapat menghalangi anak dalam mengamati gerak mulut.
f)  Ketika guru menjelaskan materi hendaknya memposisikan kembali menghadap ke depan anak dengan jelas.

No comments:

Post a Comment