A.
KURIKULUM
ABK (Tuna Rungu)
1.
Pengertian kurikulum ABK
Kurikulum
adalah seperangkat rencana pembelajaran yang didalamnya menampung pengaturan
tentang tujuan, isi, proses, dan evaluasi. Dengan demikian kurikulum tingkat
satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang dirancang, diberlakukan dan
diimplementasikan dalam satu lembaga atau satuan pendidikan tertentu.
Selanjutnya
silabus merupakan rancangan pembelajaran yang disusun oleh guru selama satu
semester. Sedangkan RPP sebagai rencana pembelajaran yang di susun guru untuk
satu atau bebrapa pertemuan dengan peserta didik.
Dalam
pembelajaran inklusif, model kurikulum bagi ABK dapat dikelompokan menjadi
empat, yakni:
a.
Duplikasi Kurikulum
Yakni ABK
menggunakan kurikulum yang tingkat kesulitannya sama dengan siswa
rata-rata/regular. Model kurikulum ini cocok untuk peserta didik tunanetra,
tunarungu wicara, tunadaksa, dan tunalaras. Alasannya peserta didik tersebut
tidak mengalami hambatan intelegensi. Namun demikian perlu memodifikasi proses,
yakni peserta didik tunanetra menggunkan huruf Braille, dan tunarungu wicara
menggunakan bahasa isyarat dalam penyampaiannya.
b.
Modifikasi Kurikulum
Yakni
kurikulum siswa rata-rata/regular disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan/potensi ABK. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada peserta
didik tunagrahita dan modifikasi kurikulum ke atas (eskalasi) untuk peserta
didik gifted and talented.
c.
Subtitusi Kurikulum
Yakni
beberapa bagian kurikulum anak rata-rata ditiadakan dan diganti dengan yang
kurang lebih setara. Model kurikulum ini untuk ABK dengan melihat situasi dan
kondisinya.
d.
Omisi Kurikulum
Yaitu
bagian dari kurikulum umum untuk mata pelajaran tertentu ditiadakan total,
karena tidak memungkinkan bagi ABK untuk dapat berfikir setara dengan anak
rata-rata.
Nah, dari
penjabaran model-model kurikulum di atas, maka kurikulum yang cocok bagi ABK
Tuna Rungu yakni kurikulum “Duplikasi Kurikulum”.Adapun pembahasan yang lebih
mendalam lagi akan dijabarkan pada bab III.
2.
Kurikulum ABK Tuna Rungu
Kurikulum
yang digunakan pada YPALB SLB-B karanganyar
adalah sebagai berikut dimana peserta didik akan memperoleh :
a.
Pendekatan komunikasi
Guru menggunakan
pendekatan komunikasi dengan bahasa isyarat, dimana guru menggunakan gerakan mulut dan
gerakan tangan untuk berbicara dengan peserta didik. Selain itu, komunikasi
dapat dilakukan juga melalui tulisan tangan. Hal ini memungkinkan siswa untuk mampu
berbahasa dan berkomunikasi sebagai dasar untuk menguasai kompetensi yang lain.
b.
Pendekatan
Auditori Oral
Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling
melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap
suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik ( mengembangkan
keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat ).
c.
Bidang kekhususan
Yaitu
dengan memberikan pelayanan secara khusus kepada peserta didik yang dianggap
membutuhkan pelayanan khusus atau sendiri.
d.
Bidang pengembangan keterampilan
Adalah
meliputi komputer, melukis, mengambar, serta
sanggar kreatifitas.
e.
Menggunakan
alat peraga secara langsung
Kegiatan
pembelajaran di YPALB SLB-B Karanganyar ini menggunakan alat peraga secara
langsung. Hal ini dianggap guru sebagai cara untuk mempermudah pemahaman
peserta didik menggunakan media alat peraga tersebut.
f.
Materi
lebih sederhana dibandingkan sekolah reguler/umum
Materi
pembelajaran yang disampaikan oleh guru SLB-B ini masih berintergrasi dengan
sekolah pada umumnya, hanya saja dalam penyampaian materi tersebut kepada
peserta didik guru memilah-milah materi yang kiranya bisa diterima peserta
didik atau materi lebih disederhanakan lagi oleh guru sehingga dapat diterima
peserta didik .
g.
Memuat
8 mata pelajaran
Kurikulum
di YPALB SLB-B karanganyar memuat 8 mata pelajaran untuk tingkat SDLB yakni antara
lain : IPA, IPS, Matematika, Bhs.Indonesia, Pkn, SBK, Agama, dan olah raga.
B.
RPP
ABK (Tuna Rungu)
RPP merupakan
rencana kegiatan pembelajaran yang dibuat oleh guru sebagai suatu rencana bagaimana
kegiatan pembelajaran akan dilaksanakan. Rencana pelaksanaan pembelajaran di
SDLB tidak jauh berbeda dengan RPP di SD pada umumnya hanya saja ada sedikit
perbedaan yaitu terletak pada sistem penilaiannya. Untuk RPP bisa dilihat
dilampiran.
Adapun program
pembelajaran meliputi program tahunan, bulanan, mingguan, harian (mengikuti
program di kelompok bermain). Sedangkan RPI (Rencana Pembelajaran Individual)
disusun berdasarkan hasil assesment individu ABK dan di implementasikan pada
setiap sentra bersama siswa yang lainnya. Pelaksanakan RPI dapat dilakukan pada waktu umum ataupun juga bisa pada waktu
kegiatan yang khusus (hanya pendidik dengan satu siswa saja). Prinsip-prinsip
dari RPI itu sendiri adalah sebagai berikut :
1.
berpusat
pada kebutuhan anak
Maksudnya adalah
posisi dimana pendidik harus memperhatikan minat dan bakat peserta didiknya agar dapat digali
potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut untuk nantinya bisa
dikembangkan lebih lanjut dengan bantuan, arahan serta dampingan oleh guru
untuk mengukir prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh peserta didik itu
sendiri.
2.
Inklusif
Pendidik
sekaligus memperkenalkan adanya keberagaman khusus antara peserta didik
berkebutuhan khusus dan tidak.
3.
Holistik
Penyusunan
hendaknya meliputi seluruh aspek kebutuhan peserta didik.
Kerjasama setiap pihak yang terkait
dengan peserta didik (orangtua, pendidik, terapis) sehingga penanganan bisa
berlangsung bisa integratif.
C.
LAYANAN
PENDIDIKAN ABK (Tuna Rungu)
- Tujuan Layanan Pendidikan ABK (Tuna Rungu) di Sekolah
Tujuan layanan pendidikan bagi ABK
tidak berbeda dengan tujuan pendidikan secara umum, yaitu, “untuk optimalisasi perkembangan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab” (UU Sisdiknas No. 20/2003). Dalam UU No. 23/2002 tentang Perlindungan
Anak, pasal 51 juga menyatakan : “anak yang menyandang cacat fisik dan mental
diberikan kesempatan yang sama dan akses untuk memperoleh pendidikan biasa dan
pendidikan luar biasa”.
- ABK dengan Gangguan Pendengaran
a.
Kebutuhan Belajar
Ada beberapa kebutuhan yang diperlukan ABK dengan gangguan pendengaran di
dalam belajar.Kebutuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
- Alat Bantu Dengar (ABD)
ABD merupakan alat yang sangat
penting bagi ABK dalam menerima rangsangan suara. Namun, tidak semua anak-anak suka menggunakan alat
bantu dengar. Hal ini dikarenakan karena ABD tidak dapat menyeleksi bunyi
suara, sehingga segala bunyi/suara bisa masuk ke telinga melalui ABD. Efek negatifnya adalah anak-anak pemakai ABD
sering dikejutkan bunyi-bunyi mendadak yang masuk ke telinga. Guru perlu memiliki wawasan tentang ABD dan
penggunaannya. Agar anak mendapatkan kenyamanan saat menggunakan ABD, maka
perlu dipilihkan ABD yang berkualitas dengan berkonsultasi kepada ahli
audiologi, salah memilih akan dapat berpengaruh terhadap anak yang memakai.
Oleh karena itu, tidak jarang anak
dengan kelainan pendengaran enggan memakai ABD karena kualitasnya kurang bagus.
Dalam proses belajar-mengajar di kelas, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan oleh guru, diantaranya adalah:
a.
ABD
bukan sebagai pengganti pendengaran yang normal, tetapi hanya membuat suara
lebih keras, termasuk suara yang tak
diinginkan pun ikut terdengar.
b.
ABK diharapkan terus memakainya dalam pengajaran.
c.
Tempat duduk ABK tetap perlu
diperhatikan agar mendengar secara optimal dan tak terganggu, dan.
d.
Guru berusaha berbicara di depan kelas dengan intonasi yang jelas sehingga bisa dimengerti oleh semua anak,
terutama ABK.
- Fasilitas atau Alat-alat yang Diperlukan dalam Belajar Anak Tunarungu
Fasilitas penunjang untuk pendidikan anak tunarungu secara umum
relative sama dengan anak normal. Seperti papan tulis, buku, buku pelajaran,
alat tulis, sarana bermain dan olah raga. Namun karena anak tunarungu mmepunyai
hambatan dalam mendengar dan berbicara, maka merekan memrlukan alat bantu
khusus, alat khusus antara lain menurut permanarian somad dan tati herawati
(1996) adalah audiometer, hearing aids, telephone typewriter, mikro
komputer, audio visual, tape recorder, spatel dan cermin.
a.
Audiometer
Audiometer
adalah alat elektronik untuk mengukur taraf kehilangan pendengaran seseorang.
Ada dua jenis audiometer yaitu audiometer oktaf dan audiometer kontinyu.
Audiometer oktaf untuk mengukur frekuensi pendengaran : 125 – 250 – 500 – 1000
– 2000 – 4000 – 8000 Hz. Audiometer kontinyu mengukur pendengaran antara 125 – 12000
Hz.
b.
Hearing aids
Hearing aids atau alat bantu dengar mempunyai tiga unsur utama, yaitu microphone,
amplifer, dan receiver. Sedangkan prinsip kerjanya adalah sebagai
berikut : suara (energi akustik) diterima microphone, kemudian diubah
menjadi energi listrik dan dikeraskan melalui amplifer, kemudian diteruskan ke receiver
(telepon) yang mengubah kembali energi listrik menjadi suara seperti alat
pendengaran pada telepon dan diarahkan ke gendang telinga (membrane
Tympany).
Alat
bantu dengan hearing aids ada bermacam-macam yaitu diselipkan di belakang
telinga, di dalam telinga, dipakai pada saku kemeja (pocket), atau yang
dipasang pada bingkai kacamata. Dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing
aids) anak tunarungu dapat berlatih mendengarkan, baik secara individual
maupun secara kelompok.
c.
Telephone typewriter
Telephone typewriter atau mesin penulis telepon merupakan alat bantu bagi anak
tunarungu yang memungkinkan mereka mengubah pesan-pesan yang diketik menjadi
tanda-tanda elektronik yang diterjemahkan secara tertulis (huruf cetak).
Mesin
tulis telepon terdiri dari telepon yang dilengkapi dengan alat pendengar, lampu
kedap kedip sebagai tanda panggilan, mesin tulis, komputer dan amplifer. Mesin
tulis ini memungkinkan perubahan pesan suara yang masuk ke dalam computer dan
mengubah tanda-tanda elektronik dan bunyi pada frekuensi yang berlainan yang
kemudian disampaikan melalui telepon dan diubah kembali menjadi huruf tercetak
yang dapat dimengerti oleh anak tunarungu.
d.
Mikro computer
Mikrokomputer
merupakan alat bantu khusus yang dapat memberikan informasi secara visual. Alat
bantu ini sangat membantu bagi anak tunarungu yang mengalami kelainan
pendengaran berat. Keefektifan penggunaan mikrokomputer tergantung pada software
dan materinya harus dapat dimengerti oleh anak tunarungu.
e.
Audio visual
Alat
bantu audiovisual dapat berupa film, video tapes, TV. Penggunaan
audiovisual tersebut sangat bermanfaat bagi anak tunarungu, karena mereka dapat
memperhatikan sesuatu yang ditampilkan sekalipun dalam kemampuan mendengar yang
terbatas. Sebagai contoh, penayangan film-film pendidikan, film ilmiah popular,
film kartun, dan siaran berita TV dengan bahasa isyarat.
f.
Tape recorder
Tape recorder sangat berguna untuk mengontrol hasil ucapan yang telah
direkam, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan bahasa lisan anak tunarungu
dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun. Selain itu, tape recorder
sangat membantu anak tunarungu ringan dalam menyadarkan akan kelainan
bicaranya, sehingga guru artikulasi lebih mudah membimbing mereka dalam
memperbaiki kemampuan bicara mereka. Tape recorder dapat pula digunakan
untuk mengajar tunarungu yang belum bersekolah dalm mengenal gelak tawa,
suara-suara hewan, perbedaan antara suara tangisan dengan suara omelan dan
sebagainya.
g.
Spatel
Spatel
adalah alat bantu untuk membetulkan posisi organ bicara, terutama lidah. Spatel
digunakan untuk menekan lidah, sehingga kita dapat membetulkan posisi lidah
anak tunarungu. Dengan posisi lidah yang benar mereka dapat bicara dengan
benar.
h.
Cermin
Cermin
dapat digunakan sebagai alat bantu anak tunarungu dalam belajar mengucapkan
sesuatu dengan artikulasi yang benar. Di samping itu, anak tunarungu dapat
menyamakan ucapannya melalui cermin dengan apa yang diucapkan oleh guru atau
artikulator (speech therapist). Dengan menggunakan cermin, articulator
dapat mengontrol gerakan-gerakan yang tidak tepat dari anak tunarungu, sehingga
mereka menyadari dalam mengucapkan konsonan, vokal, kata-kata, kalimat secara
benar.
- Bentuk Layanan Pendidikan Anak Tunarungu di Sekolah
Layanan pendidikan yang spesifik bagi tuna rungu adalah
terletak padapengembangan persepsi bunyi dan komunikasi. Hallahan dan Kauffman
(1988) menyatakan bahwa ada tiga pendekatan umum dalam mengajarkan komunikasi
anak tunarungu, yaitu Auditory training, speechreading, sing language and
fingerspelling.
Ada beberapa cara dalam mengembangkan kemampuan komunikasi
anak tunarungu, yaitu :
a.
Metode oral
yaitu
cara melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan (verbal) dengan
lingkungan orang mendengar. Dalam hal ini perlu partisipasi lingkungan anak
tunarungu untuk berbahasa secara verbal. Dalam hal ini Van Uden, menyarankan
diterapkannya prinsip cybernetic yaitu prinsip yang menekankan perlunya
suatu pengontrolan diri. Setiap organ gerak bicara yang menimbulkan bunyi,
dirasakan dan diamati sehingga hal itu akan memberikan umpan balik terhadap
gerakan yang akan menimbulkan bunyi selanjutnya.
b.
Membaca ujaran
Dalam dunia pendidikan membaca ujaran sering
disebut juga dengan membaca bibir (lip reading). Membaca ujaran yaitu
suatu kegiatan yang mencakup pengamatan visual dari bentuk dan gerak bibir
lawan bicara sewaktu dalam proses bicara.
c.
Metode manual
Metode
manual yaitu cara mengajar atau melatih anak tunarungu berkomunikasi dengan
isyarat atau ejaan jari. Bahasa manual atau bahasa isyarat mempunyai unsure
gesti atau gerakan tangan yang ditangkap melalui penglihatan atau suatu bahasa
yang menggunakan modalitas gesti-visual.
d.
Ejaan jari
Ejaan
jari adalah penunjang bahsa isyarat dengan menggunakan ejaan jari. Ejaan jari
secara garis besar dapt dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu (1) ejaan jari
dengan satu tangan (onehanded), (2) ejaan jari denga kedua tangan (twohanded),
dan (3) ejaan jari campuran dengan menggunakan satu tangan atau dua tangan.
e.
Komunikasi total
Komunikasi
total merupakan upaya perbaikan dalam mengajarkan komunikasi anak tunarungu.
Istilah komunikasi total pertama kali dicetuskan oleh Holcomb (1968) dan
dikembangkan lebih lanjut oleh Denton (1970) dalam Permanarian Somad dan Tatti
Herawati (1996). Komunikasi total merupakan cara berkomunikasi dengan
menggunakan salah satu modus atau semua cara komunikasi yaitu penggunaan system
isyarat, ejaan jari, bicara, baca ujaran, amplifikasi, gesti, pantomimik,
menggambar dan menulis serta pemanfaatan sisa pendengaran sesuai kebutuhan dan
kemampuan seseorang.
- Strategi Pendampingan Belajar
Tujuan utama pendidikan ABK gangguan
pendengaran adalah agar anak mampu mengikuti dan berperan dalam seluruh bidang
kehidupan. Untuk itu anak harus dipersiapkan sedini mungkin. Untuk guru yang
melayani pendidikan ABK, Smith (2004) memberikan advokasi :
a) Anak diberikan tempat duduk di depan papan tulis, dan
diusahakan jauh dari bunyi-bunyi getaran mesin pemanas dan AC.
b) Anak diberi kesempatan yang relative sama dengan anak
normal lainnya dalam kegiatan berbahasa dan berbicara.
c) Jika anak tampak kebingungan, guru dapat menjelaskan sekali lagi
ucapan/pernyataan yang dimaksud.
d) ABK biasanya lebih cepat lelah dibandingkan dengan teman lain yang normal,
untuk itu guru menjelaskan materi pelajaran tidak terlalu cepat.
e) Guru hendaknya memperhatikan ekspresi wajah anak apakah
telah mengadakan kontak mata sebelum materi diberikan.
Bagi ABK tunarungu yang mengandalkan
membaca ucapan (speechreading), Smith (2004) memberi saran sebagai berikut:
a) Ketika berbicara
guru menghindari aktivitas keliling
ruangan, sehingga tidak dapat diikuti oleh siswa dan siswi tunarungu.
b) Guru hendaknya mengambil posisi yang cukup cahaya sehingga
wajah dan ucapan guru dapat dilihat dengan jelas.
c) Tangan guru hendaknya tidak menutupi wajah dan gerak bibir.
d) Guru hendaknya tidak terlalu berlebihan ketika menggunakan
mulut; usahakan bicara pelan dan alami.
e) Bagi guru laki-laki hendaknya tidak memelihara kumis lebat
karena dapat menghalangi anak dalam mengamati gerak mulut.
f) Ketika guru menjelaskan materi hendaknya memposisikan
kembali menghadap ke depan anak dengan jelas.
No comments:
Post a Comment