Tuesday, March 18, 2014

GEJALA KOGNISI


GEJALA KOGNISI


             A. Teori Gejala Pengenalan (Kognisi)
1.      Pengindraan dan Pengamatan
Segala aktivitas yang kita lakukan sehari-hari tentunya tidak terlepas dari pengindraan kita yang meliputi indra penglihat, pendengar, peraba, penciuman, dan indra pengecap. Adapun pengertian pengindraan dalam psikologi umum adalah penyaksian indra kita atas rangsangan yang merupakan suatu kompleks (suatu kesatuan yang kabur, tidak jelas).Dalam pengindraan bagian-bagian atau unsur-unsur dari rangsangan belum terurai, masih menjadi satu, bahkan diri kita pun seakan-akan termasuk di dalamnya.Jadi, jiwa kita pasif.
Selanjutnya bila kita membahas pengindraan, maka kita pasti akan juga membahas pula mengenai masalah pengamatan yang notabennya antara pengindraan dan pengamatan akan selalu saling terkait atau berhubungan. Pengertian pengamatan dalam psikologi umum adalah hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perangsang. Pada dasarnya dalam proses pengamatan sendiri itu seseorang atau individu dengan sadar dapat memisah-misahkan unsur-unsur dari objek pengamatannya.
Oleh karena itu, maka di bawah ini akan dijelaskan sedikit mengenai terjadinya proses pengamatan. Adapun prosesnya yakni sebagai berikut :
a.   Objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indra atau reseptor.(proses kealaman/fisik).
b.   Stimulus yang diterima oleh alat indra dilanjutkan oleh saraf sensoris ke otak.(proses fisiologik).
c.     Terjadi proses di otak sehingga individu dapat menyadari  tentang apa yang diterima melalui alat indra atau reseptor.(pengamatan yang sebenarnya). 
 
2.      Tanggapan
Tanggapan timbul karena proses pengamatan telah dilakukan oleh individu (anak) itu sendiri sebelumnya. Pengamatan dapat diartikan juga sebagai gambaran ingatan dari pengamatan, ketika objek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan. Jadi, bila proses pengamatan sudah berhenti dan hanya tinggal kesan-kesannya saja, maka peristiwa yang demikian itu disebut sebagai tanggapan.
Pada dasarnya tanggapan ada di bawah alam sadar  kita ataupun tidak kita sadari. Tanggapan mempunyai dua fungsi yakni fungsi primer dan fungsi sekunder. Namun, kita akan menganalisis tentang individu yang memiliki fungsi sekunder lemah atau fungsi primer dominan yang memiliki ciri-ciri khas sebagai berikut :
a.         Banyak gerakan-gerakannya.
b.        Lincah.
c.         Charmant.
d.        Menarik.
e.         Ramah.
f.         Mudah mengerti.
g.        Dangkal pengetahuannya.
h.        Suka menduga.
i.          Berani.
j.          Gagah.
k.        Banyak humor.
l.          Mempunyai kecenderungan untuk berlebih-lebihan.
m.      Bermulut besar.
n.        Gembira.
o.        Mudah berkecil hati.
p.        Suasana hatinya tidak tetap mudah berganti-ganti.
Adapun individu yang memiliki fungsi sekunder dominan atau fungsi primer lemah yang memiliki ciri-ciri khas sebagai berikut :
a.    Suasana hatinya tenang.
b.    Tekun.
c.    Hemat.
d.   Teliti.
e.    Wataknya tertutup.
f.     Berbicara dan ketawanya sedikit.
g.    Sering kelihatan kaku.
h.    Tidak menarik dan membosankan.

3.      Reproduksi dan Asosiasi
Reproduksi adalah pemunculan tanggapan dari keadaan di bawah sadar (tidak disadari) ke dalam keadaan disadari ketika mengingat kembali suatu yang telah kita amati dan kita alami.Reproduksi dapat juga terjadi karena adanya perangsang atau pengaruh dari luar.Reproduksi juga dapat muncul dengan sendirinya atau tidak dengan sengaja, dan tidak bersebab. Jadi, secara spontan muncul dalam kesadaran.
Menurut cara timbulnya, reproduksi bisa juga terikat, yaitu diikat dan didorong oleh kemauan sendiri. Dengan kata lain secara sengaja dan atas kemauan sendiri kita dapat menimbulkan reproduksi itu. Reproduksi bersifat bebas dan tidak terikat artinya reproduksi bisa timbul dengan sendirinya, dengan tidak disengaja, sehingga bersifat apa adanya dan liar mengembara dalam benak kita.
Jika bicara mengenai reproduksi, maka tak terlepas dari asosiasi yang selalu mengiringi reproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dalam hal ini pengertian asosiasi khususnya asosiasi tanggapan adalah sangkut paut  antara tanggapan satu dengan yang lain.Tanggapan yang berasosiasi berkecenderungan untuk mereproduksi, artinya apabila yang satu disadari, maka yang lain ikut disadari pula.
Adapun bunyi hukum yang dikemukakan oleh Aristoteles adalah sebagai berikut :

Hukum I              : Hukum sama waktu
                               artinya, tanggapan-tanggapan yang muncul pada
                               saat yang sama dalam kesadaran, akan terasosiasi
                               bersama.
Hukum II            : Hukum berurutan
                               artinya, tanggapan yang mempunyai hubungan
  berturut-turut berasosiasi dan direproduksikan ke
  dalam kesadaran.
Hukum III           : Hukum Persamaan
                               artinya, tanggapan yang hampir sama, dan benda-
  benda yang hampir berasosiasi dan   
  direproduksikan ke dalam kesadaran.
Hukum IV           : Hukum Perlawanan
                                                  artinya, tanggapan-tanggapan yang berlawanan berasosiasi dan 
                                                  direproduksi kesadaran.

Hukum V             : Hukum sebab akibat
                               artinya, tanggapan-tanggapan yang mempunyai
                               kaitan logis satu sama lain, timbul bersama-sama,
  berasosiasi, dan direproduksikan dalam ke dalam
  kesadaran.

4.      Ingatan (Memory)
Ingatan (memory) adalah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksikan kesan-kesan.Ada 3 unsur dalam perbuatan ingatan yakni sebagai berikut:
a.         Menerima kesan-kesan.
b.        Menyimpan.
c.         Mereproduksikan.
Ingatan pada dasarnya adalah suatu kemampuan yang terbatas yang dimiliki oleh manusia.Berikut adalah beberapa sifat ingatan manusia yaitu :
a.    Ingatan yang cepat dan mudah.
artinya seseorang dapat dengan mudah dalam menerima kesan-kesan.
b.    Ingatan yang luas.
artinya, sekaligus seseorang dapat menerima banyak kesan dan dalam daerah yang luas.
c.    Ingatan yang teguh.
kesan yang telah diterimanya itu tetap tidak berubah, tetap sebagaimana pada waktu menerimanya (tidak mudah lupa).
d.   Ingatan yang setia.
kesan yang telah diterimanya itu tetap tidak berubah, melainkan tetap sebagaimana  pada waktu menerimanya.
e.    Ingatan yang mengabdi atau patuh.
kesan yang pernah dicamkan dapat dengan mudah direproduksikan secara lancar.
 
Salah satu produk ingatan adalah mengenal kembali.Adapun mengenal kembali adalah kesadaran masa lampau, sebagai akibat dari pengamatan.Di samping itu ada peristiwa mengingat kembali, yaitu kesadaran masa lampau, dikaitkan dengan reproduksi.
Ada 3 metode untuk menghafal di luar kepala. Dalam hal ini orang menggunakan beberapa metode yaitu :
a.    Metode G (Ganslern) atau metode K (Keseluruhan)
adalah metode belajar secara keseluruhan. Metode ini untuk menghafal sesuatu yang hanya sedikit.
b.    Metode T (Teillern) atau metode B (Bagian-bagian)
adalah metode belajar bagian demi bagian. Metode ini digunakan untuk menghafal sesuatu yang banyak.
c.    Metode V (Vermittelende) atau metode C (Campuran)
adalah metode pengantara yaitu ada yang dihafalkan bagian demi bagian dan ada yang secara keseluruhan. 

5.      Fantasi (Khayalan)
Fantasi adalah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan baru.Fantasi dapat terjadi :
a.    Secara disadari
apabila individu betul-betul menyadari akan fantasinya.
b.    Secara tidak disadari
apabila individu tidak secara sadar telah dituntut oleh fantasinya.
Fantasi memungkinkan kita mengikuti pengarang atau pencerita dalamm ceritanya, merasakan apa yang dirasakan seorang penggubah lagu, dan mengikuti apa yang diciptakan, baik oleh seorang seniman maupun oleh seorang cerdik pandai. Jadi, ada 2 fantasi yaitu :
a.    Fantasi pencipta
merupakan bentuk atau jenis fantasi yang mampu menciptakan hal-hal baru.
b.    Fantasi terpimpin
merupakan bentuk atau jenis fantasi yang dituntun oleh pihak lain.

Selanjutnya, fantasi bila ditinjau dari caranya orang berfantasi itu dibagi menjadi 3 yaitu :
a.    Fantasi yang mengabstraksi
yaitu cara orang berfantasi dengan mengabstraksikan beberapa bagian sehingga ada bagian-bagian yang dihilangkan.
b.    Fantasi yang mendeterminasi
yaitu cara orang berfantasi dengan mendeterminasi lebih dulu.
c.    Fantasi yang mengombinasi
yaitu cara orang berfantasi dimana orang mengombinasikan pengertian-pengertian atau bayangan-bayangan yang ada pada individu bersangkutan.

Dari tiga tipe orang berfantasi di atas, maka pada dasarnya semua anak-anak sudah bisa atau mampu melakukan tiga fantasi tersebut. Akan tetapi, masih membutuhkan sarana pendukung atau pihak ketiga dalam melakukan fantasi tersebut. Misalnya saja, kalau di sekolahan pihak ketiganya adalah guru.Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyampaikan sesuatu. Dalam konteks ini, bagaimana cara guru untuk memancing anak untuk berkhayal dengan menggunakan  3 cara orang berfantasi seperti yang telah diuraikan dalam teori di atas sangat diperlukan sehingga tanpa disadari anak-anak telah melakukannya.
 
6.      Berpikir (Thinking)
Berpikir adalah merupakan aktivitas psikis yang intensional, dan terjadi apabila seseorang menjumpai problema (masalah) yang harus dipecahkan.Jadi, dengan berpikir seseorang menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan pemecahan persoalan yang dihadapi.
Menurut para ahli logika, ada tiga fungsi berpikir yaitu meliputi :
a.    Membentuk pengertian.
b.    Membentuk pendapat. 
c.   Membentuk kesimpulan.

            Membaca dalam hati
Merupakan kegiatan dengan cara tidak membaca  keras-keras tulisan orang lain, disertai pikiran sendiri dan menyertakan pemeriksaan dengan akal serta kontrol.

            Berpikir dan bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi antara Aku dengan Aku lain. Artinya, segala sesuatu yang dipikirkan oleh seseorang itu akan dipahami oleh orang lain, apabila orang pertama tadi menyatakan pikirannya dengan satu cara tertentu.
Adapun bahasa selalu erat kaitannya dengan kegiatan berpikir. Hal itu terjadi karena pada dasarnya anak manusia mendapatkan banyak pengertian dalam kehidupan sehari-hari disebabkan ia belajar memahami perkataan-perkataan (bahasa).

7.      Intelegensi (Kecerdasan)
Menurut Stern dalam Abu Ahmadi (2009), intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya. Adapun pada dasarnya intelegensi yang dimiliki oleh tiap individu masing-masing berbeda-beda. Jadi dibutuhkan penerapan multiple intelegensi dalam proses kegiatan belajar di kelas.

8.      Intuisi
                         Intuisi adalah pandangan batiniah yang serta merta tembus mengenai satu peristiwa   
                   atau kebenaran, tanpa penurutan pikiran, mirip ilham.Intuisi merupakan bentuk pikiran 
                   yang samar-samar, sering setengah disadari, tanpa diiringi proses berpikir yang cermat 
                   sebelumnya, namun kemudian dapat menuntun pada satu keyakinan, yaitu secara tiba-tiba
                   dan pasti memunculkan satu keyakinan yang tepat.


9.      Pengamatan Melalui Pancaindra
a.    Melalui Indra Penglihatan
Untuk melakukan pengamatan, maka dibutuhkan adanya suatu perhatian pada objek yang diamatinya. Dalam hal ini, indra penglihatan memiliki peranan yang sangat penting sehingga individu dapat menyadari apa yang dilihatnya dengan adanya stimulus yang diterima oleh mata kemudian diteruskan ke saraf sensoris lalu ke otak.
b.   Melalui Indra Pendengaran
Telinga yang merupakan indra pendengaran adalah salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada di sekitarnya dengan adanya stimulus berupa bunyi sehinggaindividu dapat menyadari apa yang ia dengarkan sekaligus telah terjadi proses pengamatan atau persepsi.
c.    Melalui Indra Penciuman
Hidung yang merupakan indra penciuman adalah alat untuk mengetahui bau yang ada di sekitarnya. Adapun prosesnya yakni bau (stimulus) yang diterima oleh hidung di teruskan ke saraf sensoris lalu ke otak sehingga individu dapat menyadari apa yang diciumnya.
d.   Melalui Indra Pengecap
Dalam indra pengecap, pengamatan terjadi karena zat cair itu mengenai ujung sel penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian dikirim langsung oleh saraf sensoris ke otak, hingga orang dapat menyadari atau mengamati tentang apa yang dikecap.
e.    Melalui Indra Peraba
Untuk indra peraba, pengamatan terjadi ketika individu menerima stimulus kemudian merespons dengan menyadari apa yang diraba yakni bisa berupa lunak, keras, halus maupun kasar.


                                   
                                                                                                   bersambung..........













No comments:

Post a Comment