LAPORAN MANAJEMEN KELAS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Manajemen merupakan kemampuan dan
ketrampilan khusus yang dimiliki oleh
seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama orang lain atau melaui orang lain dalam upaya mencapai tujuan
organisasi secara produktif, efektif, dan efisien.
Mengelola
kelas merupakan ketrampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan,
memahami, mendiagnosis dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas
terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Manajemen kelas pada umumnya bertujuan
untuk meningkatkan efektivitas dan efisien dalam pencapaian tujuan
pembelajaran.
Adapun kegiatan pengelolaan fisik dan
pengelolaan sosio-emosional merupakan bagian dalam pencapaian tujuan
pembelajaran dan belajar siswa.
Berhasilnya manajemen kelas dalam
memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut melekat pada
kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non fisik
(sosio-emosional) yang melekat pada guru. Lingkungan fisik tempat belajar
mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Kondisi atau iklim
memberikan pengaruh terhadap efektivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru
dan sebaliknya juga akan mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Sehingga dapat
memberikan pengaruh terhadap hasil belajar anak serta perkembangan pendidikan
peserta didik.
B.
METODE
PENULISAN
Metode Pengunpulan data yang digunakan dalam
penyusunan laporan hasil observasi ini adalah sebagai berikut:
1.
Metode
Observasi
Metode observasi yaitu
suatu metode yang dilakukan dengan cara
mengamati atau meninjau SD N Kenteng II
secara langsung. Dalam hal ini,
objek-objek yang diobservasi diantaranya keadaan sekolah dan ruang kelas,
fasilitas sekolah dan ruang kelas, proses pembelajaran di kelas, dan lain-lain.
2.
Metode
Wawancara
Merupakan metode
pengumpulan data yang dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada
narasumber yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan. Metode wawancara
dilakukan dengan cara mewawancarai atau mengajukan pertanyaan-pertannyaan guru
kelas III dan guru kelas VI SD N Kenteng II serta mewawancarai kepala sekolah
SD N Kenteng II.
3.
Metode
Kepustakaan
Metode ini dilakukan
dengan menggunakan beberapa buku yang dijadikan penunjang sebagai literatur
dalam penyusunan laporan observasi ini maupun dari internet serta sumber-sumber
yang lain yang relevan.
C.
RUMUSAN
MASALAH
Dari latar belakang yang telah
dikemukakan diatas dapat kemukakan beberapa rumusan masalah antara lain:
1.
Bagaimana orientasi mengenai SD N
Kenteng II ?
2. Bagaimana kondisi fisik,kondisi sosio-emosional,
dan kondisi organisasional yang ada di SD N Kenteng II pada kelas III dan kelas VI ?
3. Bagaimana pengaruh kondisi fisik, kondisi
sosio-emosional, dan kondisi organisasional terhadap hasil belajar siswa di SD
Kenteng II ?
4.
Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan
untuk memperbaiki kondisi fisik, kondisi emosional, dan kondisi organisasional
?
D.
TUJUAN
PENULISAN
1. Tujuan umum
a.
Untuk mengetahui orientasi sekolah SD N
Kenteng II.
b.
Untuk mengetahui keadaan SD N Kenteng II, baik dari kondisi
fisik, kondisi sosio-emosional serta kondisi organisasionalnya.
c.
Untuk mengetahui upaya-upaya
perbaikan yang dilakukan oleh pihak
sekolah.
2.
Tujuan
khusus
Tujuan khusus dari
penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah manajemen kelas yang diampu oleh ibu Ratnasari D.U.,
M.Pd.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Orientasi
sikap SD
1) Profil sekolah
a.
Nama Sekolah :
SD N Kenteng II
b.
NIS : -
c.
Propinsi :
Jawa Tengah
d.
Otonomi :
Boyolali
e.
Kecamatan : Nogosari
f.
Alamat : Ngablak
g.
Kelurahan : kenteng
h.
Kode Pos :
-
i.
Telepon :
-
j.
Status Aktreditasi :
Terakreditasi B
k.
Daerah :
Pedesaan
l.
Status sekolah :
Negeri
m.
Surat Keputusan : -
n.
Tahun Berdiri :
1975
o.
Kegiatan Belajar : Pagi
p.
Bangunan Sekolah : Milik
sendiri
q.
Lokasi Sekolah : Dalam kampung
r.
Terletak pada Lintasan :
Jalan Kampung
s.
Jumlah Keanggotaan Gugus : 173
t.
Organisasi Penyelenggara : Guru dan Komite
2) Visi dan misi
VISI SD KENTENG II
Terciptanya
Sekolah Yang Berwawasan Wiyata Mandala Dengan Mengutamakan Pembelajaran PAIKEM
Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa Yang Berwawasan Global Dan Dilandasi Ajaran
Agama
MISI SD KENTENG II
ü Menciptakan
KBM yang kondusif dan menyenangkan
ü Menanam
budi pekerti luhur yang luhur melalui sikap keteladanan
ü Meningkatkan
profesionalisme guru
ü Menumbuhkan
semangat kerja bagi warga sekolah
ü Menjalin
kerjasama dengan Stik Folder di Masyarakat
(Lihat
gambar 1.6)
3) Data guru dan karyawan
Lihat
pada lampiran gambar 1.4 dan gambar 1.5
4) Data siswa
Jumlah siswa SD
N Kenteng II adalah sejumlah 259 siswa yang terdiri dari :
Kelas
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
1
|
19
|
24
|
43
|
2
|
14
|
29
|
43
|
3
|
18
|
27
|
45
|
4
|
17
|
28
|
45
|
5
|
19
|
23
|
42
|
6
|
16
|
25
|
41
|
Jumlah total
|
103
|
156
|
259
|
5) Prestasi sekolah
-
Juara 2 lomba pramuka tingkat kecamatan
tahun 2008
-
Juara 3 lomba senam tingkat kecamatan
tahun 2009
-
Juara 1 lomba pramuka tingkat kecamatan
tahun 2010
-
Juara 3 Lomba cerdas cermat tingkat
kecamatan tahun 2010
-
Juara harapan 1 lomba menggambar tingkat
kecamatan tahun 2011
-
Juara 1 lomba lari jarak pendek tingkat
kecamatan 2011
6) Fasilitas yang dimiliki
a.
Ruang kelas : 6 ruang
b.
Perpustakaan : 1 ruang
c.
Parkir :
200 m2
d.
Ruang Kepsek : 1 ruang
e.
Ruang guru : 1 ruang
f.
Ruang UKS : 1 ruang
g.
Gudang :
1ruang
h.
Ruang kesenian : 1 ruang
i.
Kantin :
2
j.
Lapangan sepak bola : 1
k.
Lapangan voli : 1
l.
Toilet :
6
7) Ekstrakulikuler
Ekstrakulikuler yang ada pada SD N
KENTENG 2 ada beberapa macam seperti ekstra pramuka yang dilaksanakan setiap
hari jum’at dan beranggotakan dari kelas III sampai kelas V. Sedangkan untuk
kelas VI masih diharuskan ikut latihan namun hanya pada semester awal
pembelajaran. Selain pramuka ekstra kurikuler yang ada seperti les
matapelajaran (matematika, bahasa Indonesia dan beberapa materi yang diujikan
saat ujian akhir sekolah).
8) Kurikulum
Pada kelas rendah yaitu pada kelas
3(tiga),guru menyiapkan materi terlebih dahulu,terutama materi yang disiapkan
adalah materi yang sesuai dengan keinginan siswa. Agar materi tersebut dapat
diterima oleh anak dengan baik, maka guru harus menyiapkan metode tertentu yang
tidak membosankan dan tidak menjenuhkan bagi anak misalnya metode diskusi
diselingi dengan bernyanyi karena pada anak kelas bawah cenderung menyukai
metode belajar sambil dan bermain. Cara lain yang digunakan guru dalam
membangkitkan minat anak dalam belajar dan membuat suasana belajar agar menjadi
tidak jenuh dapat dilakukan dengan cara tempat duduk siswa bergeser tiap
minggunya atau dengan tenpat duduk dibuat dengan bentuk leter U.
Pada kelas tinggi yaitu pada kelas
6( enam), pembelajaran yang digunakan sudah menggunakan semi mapel, artinya
pemisahan antara tiap mata pelajaran sudah jelas. Pada kelas ini, kurikulum
yang digunakan adalah kurikulum KTSP( Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan)
dimana pembelajaran dilakukan dengan kelompok- kelompok belajar dan penataan
kursi dalam kelas disesuaikan dengan masing- masing kelompok.
9) Fasilitas pada Kelas
Pada kelas 3(tiga), fasilitas yang
disediakan dari sekolah adalah berupa alat peraga, namun jumlah alat peraga
masih sangat kurang dan jumlahnya sangat terbatas. Sehingga banyak alat peraga
yang dibuat sendiri oleh guru dan siswa, misalnya dalam pembuatan jam dinding.
Pada kelas 6(enam), fasilitas yang
diberikan sekolah berupa alat peraga yang jumlahnya sudah memadai dimana semua
mapel untuk kelas tinggi alat peraganya sudah lengkap, dan alat peraga itu
diletakkan di perpustakaan dan di kantor guru.
B.
Deskripsi
Hasil Observasi
1) Kondisi Fisik
Pembelajaran yang efektif bermula
dari suasana pembelajaran yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan
kondisi fisik diantaranya penataan ruang kelas dan isinya selamanya proses
pembelajaran.
Ada beberapa prinsip yang harus
diperhatikan guru dalam menata lingkungan fisik kelas:
a. Visibility
(keleluasaan
pandangan)
Penempatan dan penataan barang barang di
kelas tidak mengganggu pemandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat
memandang guru , benda atau kegiatan yang sedang berlangsung.
Menurut pengamatan kami di SD N Kenteng 2,
penataan barang- barang dikelas sudah ditata sedinamis mungkin, hasil karya
siswa di pajang didinding kelas, almari diletakkan di sebelah meja guru dan
meja guru terletak di sebelah kanan papan tulis,sehingga murid tetap bisa
melihat papan tulis dengan leluasa, kemudian sapu dan alat- alat kebersihan
lainya di letakkan di belakang agar tidak mengganggu pemandangan
b. Accessibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan
siswa untuk mengambil barang- barang yang dibutuhkan selama proses
pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup dilalui oleh
siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa
lain yang sedang bekerja.
Suasana kelas di SD N Kenteng 2,
lembar-lembar kertas hasil penilaiaan siswa di tempatkan dalam sebuah map yang
kemudian digantung di dinding tembok sehingga setiap siswa dapat mengambilnya
dengan mudah. Bangku- bangku di kelas sudah di susun sedemikian hingga agar
siswa leluasa dalam proses pembelajaran
c. Fleksibilitas (keluwesan)
Dalam hal ini, yaitu penataan tempat duduk
yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi dan
kerja kelompok. Kondisi tempat duduk di SD N Kenteng 2 bisa dipindah- pindah
bila pembelajaran menggunakan metode diskusi, namun bagi kelas rendah mungkin
terjadi kesulitan karena tempat duduk terbuat dari kayu yang cukup tebal
sehinga guru harus membantu dalam proses penataan tempat duduk.
d. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan
temperature ruangan, cahaya, suara dan kepadatan kelas. Dalam pengamatan kami
di SD N Kenteng 2, ruang kelas sudah sesuai. Temperature ruangan sedang, dakam
arti tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Cahayanya pun cukup, yaitu
berasal dari pintu dan juga berasal dari ventilasi ruangan, dan suara tidak
terlalu bising karena kelas tidak terletak di pinggir jalan raya, melainkan
terletak di perkampungan yang suasananya cukup mendukung bagi pembelajaran.
e. Keindahan
Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan
berpengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan
pembelajaran. Ruangan kelas pada sekolahan ini sudah dihiasi dengan kerajinan
yang dibuat siswa sehingga siswa merasa lebih dihargai.
2) Kondisi Sosio Emosional
Kondisi sosio- emosional dalam kelas
akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses pembelajaran. Kondisi
tersebut meliputi:
a. Tipe kepemimpinan guru
Tipe kepemimpinan guru artinya adalah
fungsi yang melekat pada guru ketika berada di dalam kelas. Di SD yang kami
amati, pada kelas tinggi maupun kelas rendah guru menerapkan tipe kepemimpinan
gaya demokrasi, dimana terjadi proses timbal balik antara guru dan murid sesuai
dengan peranannya masing- masing. Jadi antara guru dan siswa terjalin hubungan
baik dalam pembelajaran sehari- hari. Dimana guru menghargai setiap pendapat siswa dan siswa juga
menghargai setiap keputusan yang di ambil oleh guru mereka.
b. Sikap guru
Guru dalam menghadapi siswa yang melanggar
peraturan hendaknya tetap sabar dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan
bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Di kelas rendah, biasanya dalam
mengatasi anak yang nakal dapat di lakukan dengan menegur dan menasihati setiap
tindakan yang dirasa melanggar peraturan, namun bila dikelas tinggi guru
cenderung lebih mnekankan pada hukuman-hukuman yang lebih mendidik misalnya di
suruh menghafal juz’ama dsb.
c. Suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktoryang
besar, turut mempengaruhi dalam proses pembelajaranya. Suara guru kelas III
sangat lembut dan halus tetapi siswa masih bisa mendengar pelajaran yang
disampaikan guru. Selain itu dengan suara yang lembut siswa-siswa tidak merasa
takut. Suara guru kelas VI sangat keras namun tetap halus karena disesuaikan
dengan anak kelas atas yang umumnya ramai sendiri pada saat guru menerangakan.
Sehingga siswa-siswa dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan.
d. Pembinaan hubungan baik
Hubungan guru dengan siswa, di kelas III sangat
terasa keakraban antara siswa dan guru. Saat pelajaran berlangsung terasa
sekali hubungan baik antara guru dan siswa sangat terjaga. Meskipun pada saat
pelajaran berlangsung ada anak yang masih malu-malu untuk bertanya namun guru
sangat memahaminya.
Hubungan guru
dengan siswa kelas VI sangat terasa keakraban dan tidak tegang. Serta apabila
ada siswa yang belum mengerti tentang pelajaran guru dengan sabar dan tidak
marah. Dengan sabar membimbing siswa. Hubungan baik juga terasa saat adanya
keberanian saat mengajukan pertanyaan kepada guru. Siswa tidak canggung lagi
untuk bertanya.
3) Kondisi Organisasional
Dalam kegiatan ini, ada 5 hal yang
diperhatikan yaitu:
a. Pergantian pelajaran
Di kelas tinggi maupun kelas rendah,
pergantian jam pelajaran ditandai dengan adanya jam istirahat, ketika terjadi
pergantian dalam pelajaran, guru menyikapi hal ini, karena dalam proses ini ada
jeda yang memungkinkan siswa terjadi interaksi yang tidak diharapkan. Maka jam
istirahat di sekolah ini hanya berkisar kurang lebih 15 menit.
b. Guru berhalangan hadir
Untuk guru yang berhalangan hadir
biasanya sudah minta ijin kepada kepala sekolah. Untuk guru yang berhalangan
hadir biasanya sudah meninggalkan tugas untuk anak-anak. Namun apabila belum
meninggalkan tugas untuk anak-anak biasanya kelas akan diampu atau di ajar oleh
guru yang lain yang tidak ada jadwal mengajar ataupun kepala sekolah.
c. Masalah antar siswa
Masalah yang ada
di SD N Kenteng II umumnya adalah ada anak yang nakal yang suka mengganggu
murid lain. Biasanya di selesaikan oleh guru kelas. Guru kelas biasanya
memanggil murid yang nakal dan menasehatinya, apabila belum bisa diatasi maka
guru akan mengambil langkah dengan cara memanggil orang tua wali murid yang
bermasalah.
d. Upacara bendera
Upacara bendera
dilaksanakan setiap hari senin, dan di
hari-hari nasional pendidikan seperti
hari pendidikan nasional. Upacara setiap hari senin dilaksanakan secara rutin
dan dilaksanakan secara disiplin. Siswa-siswa mengikuti dengan rapi dan hikmat.
e. Kegiatan lain
Kegiatan
ekstrakulikiler pramuka dilaksanakan satu minggu sekali yang dilaksanakan secra
rutin, mulai dari kelas III sampai kelas VI. Dilaksanakan setiap hari jumat.
4) Kondisi Administrasi Tehnik
Kondisi ini akan turut mempengaruhi
manajemen pembelajaran di kelas, di SD N Kenteng 2, baik kelas tinggi maupun
kelas rendah daftar presensi siswa dan guru dikelola dengan baik, dimana setiap
satu minggu sekali diadakan pengecekan secara periodik terhadap daftar presensi
ini.
Pada setiap kelasnya ada pengelolaan
uang khas oleh siswa dan juga terdapat program menabung bagi siswa yang
dikelola dan dilaksanakan oleh guru yang dalam satu minggu itu terdapat dua
kali atau terdapat dua hari waktu untuk menabung yang telah disepakati oleh
siswa dan guru sebelumnya, serta guru tidak mewajibkan kepada semua siswanya
untuk mengikuti program menabung ini, karena guru tau tidak semua siswa menginginkan
hal itu, untuk alasan tertentu.
Mengenai ruang bimbingan siswa, di
sekolah ini di beri ruang khusus yang dapat digunakan untuk bimbingan siswa
yang dilakukan oleh guru baik guru kelas maupun guru bimbingan konseling.
5) Kondisi Interen Siswa
Siswa di sekolah SD N Kenteng II.
sebagian siswa berasal dari penduduk masyarakat sekitar sekolah. Kebanyakan
siswa berasal dari keluarga yang hidup di tengah- tengah asuhan petani dan
pedagang.Mengenai kesiapan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar yakni
meliputi fokus, perhatian, dan ketertarikan siswa pada waktu pertama kali
pembelajaran dimulai, itu dapat terlihat dari reaksi atau tingkat keaktifan dan
tingkat konsentrasi siswa pada saat pembelajaran berlangsung dalam kelas.
6) Kondisi Eksteren Lingkungan
Lingkungan sekitar sekolah cukup
mendukung kegiatan belajar siswa di SD Kenteng II. Karena suasana lingkungan
sepi dan jauh dari kebisingan kendaraan umum.
C.
Analisis
Hasil Observasi
1) Kondisi Fisik
setelah dua hari kami melakukan pengamatan pada SD N kenteng 2
kec. Nogosari kabupaten BOYOLALI , kami dapat mengetahui bahwa SD tersebut
adalah SD yang maju karena mampu bersaing dengan SD yang lainnya. Dan pada SD
ini memiliki ruang kelas yang luas sehingga memudahkan guru dalam proses
pembelajaran dan penerapan metode
pengajaran. Selain itu penempatan
alat-alatpun sudah sesuai dengan ketentuan dan untuk pengaturan meja korsi atau
tempat duduk itu sudah sangat bervariasi
karena ruangan yang luas sehingga memudahkan guru dan siswa dalam
penataan tempat duduk sesuai yang di inginkan. Namun ada beberapa hal perlu
dalam penataan ruang kelas yaitu kurangnya cahaya , kerapian penataan sapu dan
kurang terawatnya hasta karya anak atau seni yang di ciptakan anak, meskipun
hasta karya tersebut dapat dilihat namun terlihat kurang dalam hal
pembersihannya. Sedangkan mengenai hiasan yang ada pada setiap ruang kelas
menurut kami sudah sesuai dan bahkan siswa sangat kreatif dalam menghias kelas.
Dan lingkungan sekitarpun tidak mengganggu
karena posisi sekolah yang strategis ,jauh dari jalan raya dan keramaian
kota.
2) Kondisi Sosio Emosional
Kondisi sosial
emosional yang ada di SD N kenteng 2 pada kelas tinggi dan kelas rendah menggunakan tipe
kepemimpinan demokrasi yang dimana guru memberikan kebebasan pada siswa dalam
berpendapat namun masis dalam pengawasan guru. Selain itu hubungan antara guru
dengan siswa sangat dekat hal ini dapat dilihat ketika pembelajaran dan dan
saat istirahat karena guru dan siswa terlihat begitu dekat dan saling
bercanda-canda seperti orangtua dengan anaknya. Terutama pada kelas rendah yang
pada saat itu kami observasi adalah kelas III , ketika pembelajaran usai namun
ada siswa yang kurang jelas dalam pembelajaran yang sebelumnya siswa diperbolehkan untuk bertanya ketika jam
istirahat dan mendatangi guru di kantor. Sedangkan mengenai suara guru dalam
pembelajaran tidak ada masalah karena setiap guru di SD ini memiliki ciri khas
masing-masing yang mana siswa dapat memahaminya.
3) Kondisi Organisasional
Kondisi organisasi pada SD ini sangat terorganisasi
karena dapat dilihat dari kegiatan sehari-hari dan bukti-bukti seperti jadwal
yang sudah terstruktu. Dimana jadwal yang dibuat sudah di sesuaikan mapel dan
waktu yang tepat denga jenis mata pelajaran. Selain itu bagi guru yang
berhalangan hadir wajib ijin pada hari sebelumnya dan meninggalkan tugas bagi
siswa yang di ampunya pada hari tersebut. Namun kepala sekolahpun juga memilika
hak untuk tidak memberikan izin jika alasan guru untuk tidak hadir tidak begitu
penting.
Sedangkan organisasi yang terdapat di setiap kelas itu
sudah terstruktur juga pada kelas rendah terdapa ketua dan wakil yang memiliki
kuasa di kelas dan bertanggung jawa atas kondisi kelas. Begitu pula dengan
kelas tinggi namun pada kelas tinggi sudah lebih komplit anggotanya karena
terdapat sekretaris yang siap membantu guru dan bendahara yang sudah dilatih
untuk penggunaan uang yang dimiliki kelas.
D.
Upaya
Perbaikan
1) Kondisi Fisik
·
Perbaikan parkir sepeda.
·
Perbaikan kamar mandi/ WC.
·
Perbaikan ruang kelas.
·
Perluasan gedung perpustakaan.
·
Pergantian meja dan kursi.
·
Pemavingan halaman sekolah.
·
Perawatan taman.
·
Penambahan taman taman bermain.
2) Kondisi Sosio Emosional
·
Penambahan materi agama.
·
Penanaman disiplin sejak kelas rendah.
·
Penanaman kekeluargaan sejak siswa
berada di kelas rendah.
·
Pemberian bimbingan kepada orang tua
agar lebih memperhatikan anak-anaknya ketika berada di rumah.
3) Kondisi Organisasional
·
Peran komite sekolah yang semakin
ditonjolkan
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan
oleh output maupun inputnya. Pendidikan bukan hanya dilaksanakan di ruang
lingkup sekolah saja, namun di rumah dan lingkungan juga sangat berpengaruh
besar. Peran orang tua juga sangat mempengaruhi jiwa dan emosional peserta
didik.
B. SARAN
Guru hendaknya dapat lebih memahami
keadaan emosional masing peserta didik agar kegiatan pembelajaran dapat
berjalan sesuai dengan harapan. Pendidikan agama juga sangatlah penting untuk
disampaikan oleh peserta didik. Seorang guru yang professional hendaknya mampu
mengkombinasikan materi dengan metode-metode pembelajaran yang beragam,
sehingga peserta didik mampu menyerap materi dengan maksimal. Selain itu
penyediaan sarana-prasana untuk menunjang pembelajaran juga san gat penting
seperti ruang kelas yang nyaman, alat peraga, dan lain sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
Rachman, Maman. 1998. Manajemen
Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi.
No comments:
Post a Comment